Minggu, 17 Juli 2011

“Poetry Hujan: Kepada Seorang Penyuka Hujan



/ I /
seperti ada rasa tak bisa perlahan tumbuh setiap hujan tiba. lewat bayang-bayang lembab matamu, aku terbata-bata mengeja isyarat bila hujan bukan sebatas air jatuh dari langit semata. tetes demi tetes hujan bagai membawa berjuta pecahan kisah hidup siapa saja dan apa saja, mungkin tentang titik-titik perjalanan air mata berjuang menjadi tawa, atau tentang pecahan-pecahan kenangan yang menjahit luka-lukanya sendiri. tapi entahlah, aku tak tahu berapa banyak hikayat, munajat dan nubuat terkandung di kedalaman hujan. tiap bulir hujan tak pernah berakhir aku tafsir; aku hanya setitik tinta di antara sekian banyak tetes hujan dalam sejarah semesta.

dari hujan ke hujan, sebenarnya aku sangat ingin bercerita kepadamu, tapi aku malu. aku belum punya apa-apa selain sepi dan kesedihan. tiap kali muncul perasaan seperti itu, aku menepi sejenak ke sudut jalan, di sana aku diam-diam suka mengulum senyum sendiri, sambil berharap: semoga tak ada seorang pun memergoki aku kuyup basah. aku membiarkan rasa lapar merambat hati-hati ke sekujur tubuh, ia perlahan hadirkan ingatan bila aku masih menjadi sahabat botol-botol plastik lucu, sobekan-sobekan kardus basah, dan kaleng bekas penuh genangan hujan. semua benda manis ini memang setia menyampaikan pesan padaku kalau aku tidak sendirian, masih banyak teman-teman lain seperti warna-warni sedotan atau puntung rokok mengambang, temani aku dalam dingin hujan.

/ II /
warna hitam masih terasa akrab temani diri. gelap seolah menjadi pemandangan sejauh mata memandang. kamu larut entah di mana. aku hanyut entah ke mana. kita masih tertunduk menggigil dalam kesendirian masing-masing, gemetar menyimak ribuan keharuan dalam gemericik hujan. dari gerimis ke gerimis, kita tampak semakin berjauhan saja, tanpa pernah sedikit pun saling mengenal alamat, apalagi saling berbaku-sapa mengenal rupa. ah tapi bagaimana pun, kamu tetap sahabatku, meski kamu belum tentu juga menganggapku begitu.

lewat gerak gigil udara, aku hanya bisa menerka, bila dulu kamu pernah punya kenangan indah dengan gerimis. berjuta keceriaan pernah lahir dalam hujan. kamu semasa bocah pernah berhujan- hujanan dengan kawan-kawanmu; menari bersama di tanah lapang, tertawa bebas selepas-lepasnya, bernyanyi riang di sudut-sudut jalan. begitulah, pada masa kecil, rinai hujan ternyata pernah mengenalkan arti persahabatan kepada jiwamu. adakah itu masih kamu ingat?

/ III /
tiada suara seorang pun sampai menyapa telinga. hanya ada deru dingin menembus tulang. aku kerap merasakan dingin macam ini setiap kali kucuran air dari langit mengalir demikian deras hingga menenggelamkan jalan-jalan. pada saat-saat seperti ini mungkin kamu sedang mengenang bagaimana dulu hujan melahirkan kehangatan di kampung tempat tinggalmu. dingin hujan pernah memapahmu masuk ke dalam dekapan hangat ayah-bunda. kamu juga pernah bercengkrama bersama saudara-saudaramu saat hujan, menyeduh kopi atau teh panas, menghayati makna kekeluargaan dalam nyala kasih-sayang. adakah kamu kehilangan suasana itu di kota ini?

gerak kota berputar cepat tak ke mana-mana, kecuali pada kehancuran. satu demi satu desa lenyap dari peta, entah karena bencana, atau sedang dipaksa bunuh diri menjadi kota-kota baru. aku hanya melihat arakan awan menebal hitam, membiakkan berjuta kelebat kilat. hujan tetap mengguyur tanah disertai angin kencang. para pejalan semakin sibuk melarikan diri ke dalam kegelapan masing-masing. keluarga kota telah mati sebelum hujan. anak-anak hanya mendapat kasih-sayang dari video game. aku tak menemukan lapangan tempat dulu kamu bermain hujan. sedang kamu nyaris tak melihat satu pintu perumahan pun terbuka. hanya ada dinding-dinding baja di antara ribuan mulut yang mengutuk comberan mampat pada setiap gang. semesta hati seperti tenggelam membeku. hujan dijadikan kambinghitam. aku memutar ulang memoriku tentang sejarah tangan-tangan berdasi menghanguskan jutaan hektar hutan tanpa belas kasihan.

/ IV /
jauh dari kamarmu aku merasa, kamu ingin mengulurkan tangan kepada mereka yang masa depannya tenggelam dalam genangan hujan. namun hujan di luar kaca jendela hanya membisikkan bila harapan hidup semakin sulit kita rengkuh. tak lagi nampak orang-orang bergandengan tangan dalam hujan. aku membacanya sebagai isyarat bila pelangi semakin menjauh, semakin enggan hadir seusai  hujan reda. kini, dalam keterpisahan, aku dan kamu masing-masing tampak menyusut menjadi celah gelap dan lembab, di dalamnya  hujan turun deras sepanjang hari, menyiram luka-luka lama hingga tumbuh berjuta luka-luka baru. titik-titik rindu masih saja menetas, detik ke detik kian membesar. tapi sayang ia tak lagi punya peta ke mana dirinya harus dialamatkan selain pada kematian?

awan masih gelap. tempat berbagi hangat telah larut dalam banjir. hujan masih mengucur deras disertai kecamuk petir dan angin kencang. silakan kamu menangis. aku sekarang hanya bisa berdo'a: semoga kamu masih sabar menanti, seperti pelangi, setia menunggu hujan reda. sampai nanti ketika hujan tak lagi meneteskan duka, menetas luka. sampai hujan memulihkan luka.*)

ditulis di ciputat, ketika hujan belum reda
 


Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis