
seperti ada rasa tak bisa perlahan tumbuh setiap hujan tiba. lewat bayang-bayang lembab matamu, aku terbata-bata mengeja isyarat bila hujan bukan sebatas air jatuh dari langit semata. tetes demi tetes hujan bagai membawa berjuta pecahan kisah hidup siapa saja dan apa saja, mungkin tentang titik-titik perjalanan air mata berjuang menjadi tawa, atau tentang pecahan-pecahan kenangan yang menjahit luka-lukanya sendiri. tapi entahlah, aku tak tahu berapa banyak hikayat, munajat dan nubuat terkandung di kedalaman hujan. tiap bulir hujan tak pernah berakhir aku tafsir; aku hanya setitik tinta di antara sekian banyak tetes hujan dalam sejarah semesta.


warna hitam masih terasa akrab temani diri. gelap seolah menjadi pemandangan sejauh mata memandang. kamu larut entah di mana. aku hanyut entah ke mana. kita masih tertunduk menggigil dalam kesendirian masing-masing, gemetar menyimak ribuan keharuan dalam gemericik hujan. dari gerimis ke gerimis, kita tampak semakin berjauhan saja, tanpa pernah sedikit pun saling mengenal alamat, apalagi saling berbaku-sapa mengenal rupa. ah tapi bagaimana pun, kamu tetap sahabatku, meski kamu belum tentu juga menganggapku begitu.


tiada suara seorang pun sampai menyapa telinga. hanya ada deru dingin menembus tulang. aku kerap merasakan dingin macam ini setiap kali kucuran air dari langit mengalir demikian deras hingga menenggelamkan jalan-jalan. pada saat-saat seperti ini mungkin kamu sedang mengenang bagaimana dulu hujan melahirkan kehangatan di kampung tempat tinggalmu. dingin hujan pernah memapahmu masuk ke dalam dekapan hangat ayah-bunda. kamu juga pernah bercengkrama bersama saudara-saudaramu saat hujan, menyeduh kopi atau teh panas, menghayati makna kekeluargaan dalam nyala kasih-sayang. adakah kamu kehilangan suasana itu di kota ini?


jauh dari kamarmu aku merasa, kamu ingin mengulurkan tangan kepada mereka yang masa depannya tenggelam dalam genangan hujan. namun hujan di luar kaca jendela hanya membisikkan bila harapan hidup semakin sulit kita rengkuh. tak lagi nampak orang-orang bergandengan tangan dalam hujan. aku membacanya sebagai isyarat bila pelangi semakin menjauh, semakin enggan hadir seusai hujan reda. kini, dalam keterpisahan, aku dan kamu masing-masing tampak menyusut menjadi celah gelap dan lembab, di dalamnya hujan turun deras sepanjang hari, menyiram luka-luka lama hingga tumbuh berjuta luka-luka baru. titik-titik rindu masih saja menetas, detik ke detik kian membesar. tapi sayang ia tak lagi punya peta ke mana dirinya harus dialamatkan selain pada kematian?

ditulis di ciputat, ketika hujan belum reda
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis
